Peninggalan Sejarah Hindu-Budha Di Bali
* Berkunjung ke Goa Gajah
merupakan suatu pengalaman yang sangat menarik. Selain menikmati
keindahan dan suasananya yang sejuk dan damai, berwisata ke kawasan
tempat suci ini juga memberikan nilai spiritual dan sejarah yang
berharga.

* Lokasi Pura Goa Gajah
Pura Goa Gajah terletak di sebelah barat
Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Jaraknya sekitar 26
km dari kota Denpasar. Lokasi tepatnya adalah di tepi jurang dan
merupakan pertemuan dari sungai kecil di desa tersebut.

* Asal Nama Dari Pura Goa Gajah
Kata “Goa Gajah” dipercaya berasal dari
sebuah kata yang muncul di dalam kitab Negarakertagama. Diduga kata Goa
Gajah berasal dari kata “ Lwa Gajah”, yang berarti wihara tempat
pemujaan para Bhiksu umat beragama Budha. Pada lontar Negarakertagama
yang disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M, terdapat nama
tersebut. Sedangkan kata “ Lwa “ berarti sungai. Maka disimpulkan
menjadi pertapaan yang terletak di tepi sungai.

* Sejarah Dari Pura Goa Gajah
Goa ini dibangun sekitar abada ke 11 masehi
saat Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten sedang bertahta. Tempat ini
dulunya digunakan oleh beliau untuk bertapa. Selain itu ada pula tujuh
kolam suci dengan tujuh patung bidadari yang memancarkan air di sekitar
gua. Patung-patung ini adalah simbol dari tujuh sungai suci tempat
lahirnya agama Hindu dan Budha yang ada di India. Memang banyak
benda-benda penginggalan sejarah yang dapat ditemukan di kompleks tempat
suci ini.

* Apa Saja Yang Terdapat Di Pura Goa Gajah
Kawasan tempat suci ini dibagi menjadi tiga
bagian. Pertama, sebuah kompleks bangunan suci Hindu yang dibangun
sekitar abad ke 10 masehi. Selanjutnya, bangunan suci Hindu berbentuk
pura-pura kecil atau disebut juga “pelinggih” yang dibangun setelahnya.
Lalu bagian terakhir adalah bangunan peninggalan Budha yang kira-kira
dibangun sekitar abada ke 8 atau bersamaan dengan waktu dibangunnya
Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Di dalam gua bagian timur, terdapat tiga
Lingga Besar yang bediri di dalam ceruk. Sedangkan di bagian barat
terdapat arca Ganesha. Kemudian di bagian tengah akhir atau “keluwan”
dari gua terdapat tiga Lingga lagi sebagai lambang Siwa, atau Sang Hyang
Tri Purusa. Sementara itu di bagian depan gua atau “teben” terdapat
sebuah patung Ganesha yang merupakan anak dari Siwa. Ganesha adalah dewa
dengan tubuh manusia dan kepala gajah yang merupakan anak dari Siwa dan
Parwati. Keberadaan patung inilah yang diperkirakan asal mula nama “Goa
Gajah.”

Di depan gua gajah ini, terdapat pancuran
kuno yang terletak di atas kolam suci. Mulanya patung ini tidak nampak
karena tertutup tanah. Namun pada tahun 1954 patung ini ditemukan
setelah sebelumnya dilakukan penggalian. Hasilnya, ditemukan enam patung
“Widyadhari” atau bidadari yang tiga diantaranya berada di bagian utara
dan tiga lainnya di bagian selatan. Patung-patung Widyadhari ini
berdiri di atas sebuah pijakan berbentuk “Padma” atau teratai. Bunga
teratai dalam agama Hindu merupakan simbol alam semesta. Selain itu, di
tengah-tengah kolam ini terdapat sebuah patung “Widyadhara” atau
bidadara, sehingga patung ini seperti dikelilingi oleh enam bidadari.
Keenam yang memancarkan air ke dalam kolam tesebut dipercaya merupakan
perlambangan kesuburan.
Selain bangunan-bangunan Hindu yang
disebutkan di atas, di kompleks bangunan ini juga terdapat
peninggalan-peninggalan Budha yang umurnya bahkan lebih tua dari
bangunan-bangunan Hindu tersebut. Di bagian luar gua, tepatnya di
sebelah barat, terdapat sebuah patung bernuansa Budha bernama Dewi
Hariti atau yang di Bali dikenal sebagai Patung “Men Brayut”. Patung
dewi ini terlihat unik karena memangku banyak sekali anak kecil. Dalam
mitologi Budha, Hariti dulunya adalah seorang kanibal yang suka memangsa
daging anak-anak atau bayi. Namun, setelah mendapatkan pencerahan dari
sang Budha, sosok yang sebelumnya sangat menakutkan itu kemudian berubah
menjadi seorang yang taat beragama dan mencintai anak-anak.Melewati
parit di bagian selatan dari Goa Gajah, terdapat juga
sebuah patung Budha dengan sikap Dhyani Buddha Amitaba. Dalam sistem
pantheon Buddha Mahayana, sikap Budha ini dapat diartikan sebagai Budha
yang menjadi penjaga bagian barat dari alam semesta.
Jadi, jika Anda sedang bingung mencari
tempat wisata sejarah, Pura Goa Gajah adalah tempat yang tepat untuk
Anda dikunjungi. Karena Pura Goa Gajah merupakan peninggalan sejarah
Hindu-Budha. Selain itu, suasana di Pura Goa Gajah sangat sejuk membuat
para pengunjung betah berlama – lama untuk melihat areal Pura Goa Gajah.






0 komentar:
Posting Komentar