Minggu, 28 Agustus 2016

Peninggalan - peninggalan Sejarah Hindu-Budha

Peninggalan Sejarah Hindu-Budha Di Bali

* Berkunjung ke Goa Gajah merupakan suatu pengalaman yang sangat menarik. Selain menikmati keindahan dan suasananya yang sejuk dan damai, berwisata ke kawasan tempat suci ini juga memberikan nilai spiritual dan sejarah yang berharga.



* Lokasi Pura Goa Gajah
Pura Goa Gajah terletak di sebelah barat Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Jaraknya sekitar 26 km dari kota Denpasar. Lokasi tepatnya adalah di tepi jurang dan merupakan pertemuan dari sungai kecil di desa tersebut.



* Asal Nama Dari Pura Goa Gajah
Kata “Goa Gajah” dipercaya berasal dari sebuah kata yang muncul di dalam kitab Negarakertagama. Diduga kata Goa Gajah berasal dari kata “ Lwa Gajah”, yang berarti wihara tempat pemujaan para Bhiksu umat beragama Budha. Pada lontar Negarakertagama yang disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M, terdapat nama tersebut. Sedangkan kata “ Lwa “ berarti sungai. Maka disimpulkan menjadi pertapaan yang terletak di tepi sungai.


* Sejarah Dari Pura Goa Gajah
Goa ini dibangun sekitar abada ke 11 masehi saat Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten sedang bertahta. Tempat ini dulunya digunakan oleh beliau untuk bertapa. Selain itu ada pula tujuh kolam suci dengan tujuh patung bidadari yang memancarkan air di sekitar gua. Patung-patung ini adalah simbol dari tujuh sungai suci tempat lahirnya agama Hindu dan Budha yang ada di India. Memang banyak benda-benda penginggalan sejarah yang dapat ditemukan di kompleks tempat suci ini.

* Apa Saja Yang Terdapat Di Pura Goa Gajah
Kawasan tempat suci ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, sebuah kompleks bangunan suci Hindu yang dibangun sekitar abad ke 10 masehi. Selanjutnya, bangunan suci Hindu berbentuk pura-pura kecil atau disebut juga “pelinggih” yang dibangun setelahnya. Lalu bagian terakhir adalah bangunan peninggalan Budha yang kira-kira dibangun sekitar abada ke 8 atau bersamaan dengan waktu dibangunnya Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Di dalam gua bagian timur, terdapat tiga Lingga Besar yang bediri di dalam ceruk. Sedangkan di bagian barat terdapat arca Ganesha. Kemudian di bagian tengah akhir atau “keluwan” dari gua terdapat tiga Lingga lagi sebagai lambang Siwa, atau Sang Hyang Tri Purusa. Sementara itu di bagian depan gua atau “teben” terdapat sebuah patung Ganesha yang merupakan anak dari Siwa. Ganesha adalah dewa dengan tubuh manusia dan kepala gajah yang merupakan anak dari Siwa dan Parwati. Keberadaan patung inilah yang diperkirakan asal mula nama “Goa Gajah.”


Di depan gua gajah ini, terdapat pancuran kuno yang terletak di atas kolam suci. Mulanya patung ini tidak nampak karena tertutup tanah. Namun pada tahun 1954 patung ini ditemukan setelah sebelumnya dilakukan penggalian. Hasilnya, ditemukan enam patung “Widyadhari” atau bidadari yang tiga diantaranya berada di bagian utara dan tiga lainnya di bagian selatan. Patung-patung Widyadhari ini berdiri di atas sebuah pijakan berbentuk “Padma” atau teratai. Bunga teratai dalam agama Hindu merupakan simbol alam semesta. Selain itu, di tengah-tengah kolam ini terdapat sebuah patung “Widyadhara” atau bidadara, sehingga patung ini seperti dikelilingi oleh enam bidadari. Keenam yang memancarkan air ke dalam kolam tesebut dipercaya merupakan perlambangan kesuburan.
Selain bangunan-bangunan Hindu yang disebutkan di atas, di kompleks bangunan ini juga terdapat peninggalan-peninggalan Budha yang umurnya bahkan lebih tua dari bangunan-bangunan Hindu tersebut. Di bagian luar gua, tepatnya di sebelah barat, terdapat sebuah patung bernuansa Budha bernama Dewi Hariti atau yang di Bali dikenal sebagai Patung “Men Brayut”. Patung dewi ini terlihat unik karena memangku banyak sekali anak kecil. Dalam mitologi Budha, Hariti dulunya adalah seorang kanibal yang suka memangsa daging anak-anak atau bayi. Namun, setelah mendapatkan pencerahan dari sang Budha, sosok yang sebelumnya sangat menakutkan itu kemudian berubah menjadi seorang yang taat beragama dan mencintai anak-anak.Melewati parit di bagian selatan dari Goa Gajah, terdapat juga sebuah patung Budha dengan sikap Dhyani Buddha Amitaba. Dalam sistem pantheon Buddha Mahayana, sikap Budha ini dapat diartikan sebagai Budha yang menjadi penjaga bagian barat dari alam semesta.
Jadi, jika Anda sedang bingung mencari tempat wisata sejarah, Pura Goa Gajah adalah tempat yang tepat untuk Anda dikunjungi. Karena Pura Goa Gajah merupakan peninggalan sejarah Hindu-Budha. Selain itu, suasana di Pura Goa Gajah sangat sejuk membuat para pengunjung betah berlama – lama untuk melihat areal Pura Goa Gajah.

0 komentar:

Posting Komentar