1. Puri Agung Pacekan, Jembrana, Bali
Keraton sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Gede Jembrana dibangun pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa Brangbang). Raja I yang memerintah di keraton (Puri) Gede Agung Jembrana adalah I Gusti Ngurah Jembrana. Selain keraton, diberikan pula rakyat pengikut (wadwa), busana kerajaan yang dilengkapi barang-barang pusaka berupa tombak dan tulup. Demikian pula keris pusaka yang diberi nama “Ki Tatas” untuk memperbesar kewibawaan kerajaan. Tercatat bahwa ada tiga orang raja yang berkuasa di pusat pemerintahan yaitu di Keraton (Puri) Agung Jembrana.
Sejak kekuasaan kerajaan dipegang oleh
Raja Jembrana, I Gusti Gede Seloka, Keraton (Puri) baru sebagai pusat
pemerintahan dibangun. Keraton (Puri) yang dibangun itu diberi nama Puri
Agung Negeri pada awal abad XIX. Kemudian lebih dikenal dengan nama
Puri Agung Negara. Patut diketahui bahwa raja-raja yang memerintah di
Kerajaan Jembrana berikutnya pun memusatkan birokrasi pemerintahannya di
Keraton (Puri) Agung Negara.
Patut dicatat pula bahwa ada dua periode
birokrasi pemerintahan yang berpusat di Keraton (Puri) Agung Negara.
Periode pertama ditandai oleh birokrasi pemerintahan kerajaan
tradisional yang berlangsung sampai tahun 1855. Telah tercatat pada
lembaran dokumen arsip pemerintahan Gubernemen bahwa kerajaan Jembrana
yang otonom diduduki oleh Raja Jembrana V (Sri Padoeka Ratoe) I Goesti
Poetoe Ngoerah Djembrana (1839 – 1855). Ketika berlangsung
pemerintahannyalah telah ditandatangani piagam perjanjian persahabatan
bilateral anatara pihak pemerintah kerajaan dengan pihak pemerintah
Kolonial Hindia Belanda (Gubernemen) pada tanggal 30 Juni 1849.
Periode kedua selanjutnya digantikan oleh
birokrasi modern, melalui tata pemerintahan daerah (Regentschap) yang
merupakan bagian dari wilayah administratif Keresidenan Banyuwangi.
Pemerintahan daerah Regentschap yang dikepalai oleh seorang kepala
pribumi (Regent) sebagai pejabat yang dimasukkan dalam struktur
birokrasi Kolonial Modern Gubernemen yang berpusat di Batavia. Status
pemerintahan daerah (Regentschap) berlangsung selama 26 tahun (1856 –
1882).
Pada masa pemerintahan Raja Jembrana VI, I
Gusti Ngurah Made Pasekan (1855 – 1866), terjadi dua kali peralihan
status yaitu 1855 – 1862 sebagai Raja Jembrana dan 1862 – 1866 sebagai
status Regent (Bupati) dengan kedudukan kerajaan berada di Puri Pacekan
Jembrana.
Kerajaan Djembrana berkembang sesuai
eranya dan menjadi kabupaten Jembrana sebagai bagian integral propinsi
Bali menurut Undang Undang nomor 64 tahun 1958 tanggal 14 Agustus 1958
tentang pemekaran propinsi Sunda Kecil / Nusa Tenggara Barat dan Nusa
Tenggara Timur.
2. Puri Agung Singaraja, Buleleng, Bali
The Royal Palace Singaraja yang sering
disebut sebagai Puri Agung atau Puri Gede, dibangun oleh Raja pertama
Kerajaan Den Bukit, Ki Gusti Anglurah Pandji Sakti pada 30 Maret 1604.
Ki Gusti Anglurah Panji Sakti adalah putra dari Dalem Sagening, Raja
Bali Dwipa yang beristana di Puri Gelgel, Klungkung.
Ki Barak, demikian nama kecil Panji Sakti
(Barak ± Merah, karena dari ubun-ubunnya memancar cahaya merah
cemerlang), dalam usianya yang sangat muda pergi mengikuti ibunya, Siluh
Pasek ke Den Bukit dengan di kawal 40 pasukan khusus yang dipimpin oleh
Ki Kadosat dan Ki Dumpyung. Dalem Sagening memberi putranya sebuah
tulup bertombak Pangkaja Tatwaatau Kitunjung Tutur dan sebuah keris
Anugrah Dewata yang dikenal sebagai keris pusaka Ki Barung Semang.
Setibanya di Den Bukit (sekarang
Buleleng), Ki barak menetap di desa Panji. Ki Barak Muda pun tumbuh
menjadi pemuda yang cerdas dan berani. Dengan berbekal keris pusaka Ki
Baru Semang, ia akhirnya berhasil mempersatukan seluruh wilayah Den
Bukit. Oleh rakyat Den Bukit, Ki Barak Panji didaulat menjadi Raja Den
Bukit dan bergelar Ki Gusti Anglurah Panji Sakti.
Dalam masa pemerintahannya, ia dikenal
sebagai raja yang sakti mandraguna, bijaksana dan sangat dekat dengan
rakyatnya. Kemudian dengan pasukan Taruna Goaknya yang gagah berani, ia
melebarkan kekuasaannya dengan menaklukkan kerajaan Blambangan di Jawa
Timur. Kesaktian Panji Sakti didengar oleh Raja Mataram di Jawa Tengah
sehingga ia diundang ke keraton untuk menjalin persahabatan dan
dianugrahi seekor gajah dan sejumlah pegawai.
Raja Ki Gusti Anglurah Panji Sakti
Kemudian membangun istananya yang baru sekitar 5 km sebelah Tenggara
desa Panji yang diberi nama Sukasada. Pada tanggal 30 Maret 1604, ia
membangun purinya yang ketiga dan berlokasi di Tegalan Jagung Gembal
sekitar 1,5 km Utara Sukasada yang diberi nama Singaraja. Puri Singaraja
yang dikenal juga sebagai puri Buleleng dikembangkan oleh cucu beliau
Ki Gusti Anglurah Panji Bali. Puri Singaraja merupakan cikal bakal kota
yang kita kenal sekarang sebagai ibukota Kabupaten Buleleng.
Dalam catatan sejarah Buleleng, Puri
Singaraja hancur pada zaman Rusak Buleleng manakala Belanda bertubi-tubi
menghantamnya dengan meriam pada tahun 1846 yang berlanjut dengan
perang Jagaraga(1847-1849). Perang besar yang melibatkan ribuan
balantentara Buleleng yang dipimpin oleh panglima perang I Gusti Patih
Djelantik yang bertempur mempertahankan setiap jengkal tanah Buleleng.
Namun karena kalah dalam persenjataan, Buleleng akhirnya jatuh ke tangan
Belanda. Atas jasanya yang begitu besar, I Gusti Patih Djelantik
dianugrahi gelar Pahlawan Nasional.
Tahun 1860 Pemerintah Kolonial Belanda
menunjuk I Gusti Ngurah Ketut Djelantik generasi VIII dari dinasti Panji
Sakti sebagai raja Buleleng. Puri Agung yang hancur itu pun dibangun
kembali. Raja yang berusia muda dan berani ini pada akhirnya diasingkan
Belanda ke Padang (Sumatra Barat) pada tahun 1873 karena mendukung
perang Banjar yang memakan banyak korban di pihak Belanda.
Tahun 1929 I Gusti Putu Djelantik
generasi X Panji Sakti diangkat menjadi regent Buleleng dan pada tahun
1938 dinobatkan sebagai Raja Buleleng dan bergelar Anak Agung. Anak
Agung Putu Djelantik yang dikenal sebagai Pujangga Raja dan tokoh
pembaharuan di Bali memugar puri buleleng pada tahun 1915 dan bersama
dengan F.A. Liefrinck dan Dr. H.N. Van Der Tuuk, mengumpulkan lontar
seBali-Lombok dan mendirikan perpustakaan lontar Gedong Kirtya. Anak
Agung Putu Djelantik wafat pada tahun 1944 dan digantikan oleh putranya,
Anak Agung Panji Tisna.
Anak Agung Panji Tiina yang yang dikenal
sebagai Sastrawan Angakatan Pujangga Baru -1930 dengan karya Sastranya
a.l : Ni Rawit Ceti, Penjual orang, I Swasta Setahun di Bedahulu, Ni
SukrenI gadis Bali, I Made Widiade adalah pendiri perguruan Bhaktiyasa
di Singaraja tahun 1948 dan kawasan Lovina pada tanggal 2 Juni 1978
dalam usia 70 tahun.
3. Puri Agung Tabanan, Tabanan, Bali
Puri Agung Tabanan adalah sebutan untuk
tempat kediaman Raja Tabanan, yang merupakan salah satu puri di Bali.
Keberadaan Puri Agung Tabanan berkaitan dengan tokoh Arya Kenceng, yang
dipercaya ikut datang bersama Gajah Mada ketika Majapahit menaklukkan
Kerajaan Bedulu di Bali pada tahun 1343.
Diceritakan setelah Bali berhasil
ditaklukan, sebelum Patih Gajah Mada meninggalkan pulau Bali, semua Arya
dikumpulkan, diberikan ceramah tentang pengaturan pemerintahan, ilmu
kepemimpinan sampai pada ilmu politik. Tujuan utamanya ialah tetap
mempersatukan pulau Bali dan dapat dipertahankan sebagai daerah
kekuasaan Majapahit. Setelah semua dirasa cukup, semua Arya diberikan
daerah kekuasaan yang menyebar di seluruh Bali. Sirarya Kenceng
diberikan kekuasaan di daerah Tabanan dengan rakyat sebanyak 40.000
orang. Arya Kenceng memerintah Tabanan, dengan pusat kerajaan atau Puri
Agung yang terletak di Pucangan (Buahan), Tabanan.
Raja Tabanan III, Sirarya Ngurah Langwang
kemudian mendapat perintah dari Dalem Raja Bali agar memindahkan
kerajaannya yang di Pucangan ke daerah selatan. Akhirnya Arya Ngurah
Langwang mendapat pewisik, dimana ada asap (tabunan) mengepul agar
disanalah membangun puri. Setelah melakukan pengamatan dari Kebon
Tingguh, terlihat di daerah selatan asap mengepul ke atas. Kemudian
beliau menuju ke tempat asap mengepul tersebut yang ternyata keluar dari
sebuah sumur yang terletak di dalam area Pedukuhan yaitu Dukuh Sakti
(di Pura Pusar Tasik Tabanan sekarang). Akhirnya ditetapkan di situlah
beliau membangun Puri. Setelah selesai, dipindahlah secara resmi
kerajaannya beserta Batur Kawitannya dari Pucangan ke Tabanan (sekitar
Abad 14). Oleh karena asap terus mengepul dari sumur seperti tabunan,
puri beliau diberi nama Puri Agung Tabunan, yang kemudian pengucapannya
berubah menjadi Puri Agung Tabanan, sedangkan Kerajaannya disebut Puri
Singasana dan Raja bergelar Sang Nateng Singasana.
4. Puri Agung Den Pasar, Denpasar, Bali
Keberadaan Puri Agung Denpasar terkait
dengan keberadaan raja Kyayi Anglurah Jambe Ksatriya selaku penguasa
terakhir Negeri Badung dari Dinasti Jambe (keturunan Jambe Merik).
Setelah Dinasti Jambe runtuh lewat perang saudara, maka pemerintahan
kerajaan Badung dilanjutkan oleh Kyayi Anglurah Made Pemecutan dari Puri
Kaleran Kawan, dan selanjutnya pusat pemerintahan dipindahkan ke Puri
Agung Denpasar.
Kehadiran Puri Kaleran Kawan, sejarahnya
adalah dari Puri Pemecutan kuno, karena Kyayi Agung Gde Oka adalah putra
dari I Gusti Ngurah Pemecutan Sakti – yang lebih terkenal dengan
sebutan: Bhetara Sakti dari Puri Pemecutan kuno.
Adanya Puri Pemecutan sangat erat
kaitannya dengan keberadaan Ki Gusti Ketut Bendesa yang menurunkan
penguasa Bhandana Negara yang kini disebut Badung. Beliau ini adalah
cucu dari Arya Kenceng selaku pendiri kerajaan Tabanan, sedangkan Arya
Kenceng adalah keturunan dari Arya Damar yang kesohor itu pada jamannya.
Setelah Perang Puputan Badung 1906,
karena sudah tidak memiliki rumah dan lokasi, Puri Agung Denpasar
digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai kantor-kantor, maka
seluruh keturunan Puri Agung Denpasar membangun rumah di sekeliling Pura
Satriya. Pada saat awalnya, keturunan Puri Mataram juga turut menetap
di sana; tetapi sekarang keturunan puri itu telah putung (tidak
berlanjut).
5. Puri Agung Gianyar, Gianyar, Bali
Sejarah dua seperempat abad lebih,
tempatnya 236 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih
menjadi nama sebuah keraton (Puri Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti
maka sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut
pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali.
Sesungguhnya berfungsinya sebuah keraton, yaitu Puri Agung Gianyar yang
telah ditentukan oleh syarat sekala niskala yang jatuh pada tanggal 19
April 1771 adalah tonggak sejarah yang telah dibangun oleh raja (Ida
Anak Agung) Gianyar I, Ida Dewata Manggis Sakti.
6. Puri Agung Ubud, Ubud, Bali
Puri Agung Ubud Krisnakusuma terletak
tepat di jantung kota Ubud. Merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Ubud
pada zaman dahulu, serta sebagai pusat kegiatan seni budaya dan adat,
yang diadakan di tepat di depan puri. Puri Ubud masih memiliki tata
ruang dan bangunan yang dipertahankan seperti aslinya. Di halaman depan,
setelah pintu gerbang, terdapat area yang disebut Ancak Saji. Di sini
seminggu sekali diadakan pertunjukan seni tari bagi wisatawan dan setiap
hari dilaksanakan latihan gamelan dari berbagai kelompok seni musik
yang ada di Ubud. Semua aktivitas seni semakin mengentalkan suasana Ubud
sebagai sebuah desa yang berwawasan kesenian.
7. Puri Agung Semarapura, Klungkung, Bali
Menurut sebuah sumber, Kori Agung Puri
Semarapura ini dibuat oleh I Gusti Ibul dan I Gusti Ungu, yang hidup
pada tahun 1839. Secara fisik, bentuk Kori Agung Puri Semarapura
berwujud gelung (mahkota), dengan pintu induk di tengah dan dua pintu
penunjang di kiri-kanan pintu induk. Uniknya, Kori Agung ini dilengkapi
hiasan patung-patung mirip serdadu Belanda, yang diletakkan di depan
gerbang seperti layaknya “patung penjaga”. Hiasan seperti patung serdadu
Belanda juga terdapat di badan arsitektural candi.
Arah keluar Kori Agung Puri Semarapura
nampaknya tidak lazim untuk di daerah Bali. sebab arah keluar Kori Agung
ini menghadap ke arah gunung (utara). Menurut informasi, filosofi Kori
Agung Puri Kerajaan Klungkung yang menghadap ke arah gunung (utara) ini
dikaitkan dengan sejarah pertalian hubungan Kerajaan Klungkung dengan
Kerajaan Majapahit. Berdasarkan filosofi ini, maka arah pintu gerbang
Puri Semarapura ini dibuat mengikuti arah pintu gerbang Keraton
Majapahit yang menghadap ke arah utara.
Dalam perjalanan sejarah kebudayaan di
Bali, Kerajaan Klungkung merupakan kerajaan yang menduduki posisi
tertinggi di antara kerajaan-kerajaan lain di Bali. Hal ini terkait
dengan pertalian sejarahnya dengan Kerajaan Majapahit. Sedangkan
kerajaan-kerajaan lain di Bali mulai berkembang ketika pusat
pemerintahan kerajaan di Bali ada di Gelgel, ketika Dalem Sagening
memegang kendali pemerintahan pada 1502.
Keberadaan Kerajaan Klungkung merupakan
rangkaian dari sejarah berhasilnya Majapahit mengalahkan Raja Sri
Astasura Ratna Bhumi Banten pada 1343, pada masa Bali kuna. Sejak itulah
Bali otomatis berada di bawah kekuasaan Majapahit. Setelah Sri Kresna
Kepakisan ditunjuk menjadi Adipati di Bali pada 1352, maka mulailah trah
Ksatria Dalem menduduki posisi penting di Bali yang berpusat di
Samprangan Gianyar (Lingarsapura).
Dalam perkembangannya kemudian, di masa
pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460), pusat kerajaan
dipindahkan ke Gelgel (Swecapura). Tetapi ketika Bali mengalami zaman
keemasan di masa pemerintahan Dalem Waturenggong yang bertahta di Gelgel
(1460-1490), justru Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan pada 1478
Masehi. Ketika Kerajaan Majapahit sudah dianggap runtuh, Kerajaan Gelgel
menyatakan diri sebagai pelanjut kebesaran Majapahit di Bali.
Tetapi trah ksatria Dalem di Kerajaan
Gelgel harus berakhir. Setelah terjadi pemberontakan Patih Agung Maruti
pada 1650, pusat pemerintahan Kerajaan Gelgel akhirnya dipindahkan ke
Klungkung, karena kewibawaan Gelgel sudah dianggap tercemar. Raja
pertama Kerajaan Klungkung adalah I Dewa Agung Jambe yang dinobatkan
pada 1710.
Setelah pemerintahan kolonial Belanda
masuk ke Bali, dinasti Ksatria Dalem di Kerajaan Klungkung akhirnya
harus berakhir pada 28 April 1908 dalam peristiwa Puputan Klungkung.
Yang tersisa hanya gerbang puri. Berbeda dengan Majapahit, bata-bata
bekas bangunan peninggalan Majapahit justru dirusak, dicari dan
dihancurkan penduduk untuk dijadikan bahan semen merah, lalu dijual.
Sumber :https://myrepro.wordpress.com/2015/11/23/kerajaan-kerajaan-yang-masih-ada-di-pulau-bali/












Casino - Dr.MCD
BalasHapusCasino. Dr. MCD Casino. MCD, United 경기도 출장샵 States. 동두천 출장안마 775. 김해 출장샵 958. 강원도 출장샵 888. 888. 888. 888 Casino. 서울특별 출장마사지 Dr.